TANTANGAN SEORANG DOKTER KONSULTAN ARITMIA

Dr. Ardian Rizal, Sp.JP (K) FIHA merupakan satu-satunya dokter subspesialis Aritmia dan pemacuan jantung (irama jantung) se-Malang Raya dan saat ini membuka praktek di RS Wava Husada. Di Provinsi Jawa Timur hanya ada tiga dokter yang mendalami bidang tersebut, satu diantaranya adalah dr. Ardian. Menurutnya keberadaan dokter spesialis Aritmia jarang sekali ditemukan di Indonesia padahal kasusnya banyak terjadi.

Awalnya dr. Ardian mengaku terpaksa terjun di Aritmia. Seiring waktu, ia justru lebih tertarik untuk mempelajari lebih dalam. Bahkan tak jarang dr. Ardian memberikan pelatihan kepada dokter-dokter spesialis di beberapa wilayah. Tujuannya agar mandiri untuk memasang alat pacu Jantung. Ya, salah satu cara atasi Aritmia adalah dengan alat tersebut.

Menurut dokter Ardian, dokter yang kini aktif di organisasi Indonesian Heart Rhythm Society (InaHRS), Aritmia belum dianggap penting padahal banyak menimpa usia produktif (30-40 tahun). Didukung fakta, Indonesia menduduki peringkat pertama paling banyak penduduknya se-ASEAN. Sayangnya jumlah angka pemasangan alat pacu jantungnya terendah. Fasilitas yang kurang memadai dan adanya cover BPJS menjadi permasalahan tersendiri.

Selama ini salah satu prosedur Aritmia adalah Ablasi, yaitu tindakan untuk mengatasi gangguan Aritmia. Dilakukan dengan menggunakan kateter yang dimasukkan melalui pembuluh darah. Lalu kateter dihubungkan dengan mesin khusus yang memberikan energi listrik untuk memutus (membakar) fokus-fokus Aritmia yang menyebabkan ketidak-normalan irama jantung.

Melalui Ablasi, sebenarnya pasien dapat disembuhkan. Tidak perlu lagi mengkonsumsi obat lanjutan. Beribu sayang, dr. Ardian tidak pernah melakukan tindakan itu. ”Di Jawa timur saja tidak tersedia alatnya,” pungkas dokter yang menuntaskan gelar spesialisnya di Unair Surabaya (2009-2014).

Disisi lain pasien dengan latar belakang Aritmia banyak menggunakan BPJS. Sementara terapi Aritmia yang sering dilakukan menggunakan alat pacu Jantung. Penyediaan alat tersebut hingga saat ini masih impor. Itulah mengapa harganya terbilang tidak murah. Biaya kisaran mencapai 20 juta lebih.

Dr. Ardian memberi contoh seorang pasiennya (umur 25 tahun) yang menggunakan BPJS. Dari rekam Jantung, pasien menderita gangguan irama Jantung yang sangat cepat dan dapat menyebab-kan kematian mendadak (Sudden Cardiac Death). Obatnya bisa melalui pemasangan alat pacu Jantung (ICD). Karena biaya, alat tersebut tak pernah terpasang.

Lain cerita, dr. Ardian pernah menemui pasien yang ingin mendaftar tentara. Ia tidak diterima setelah mendaftar bolak-balik. Ternyata ada Aritmia. Oleh dr Ardian dirujuk ke Harapan Kita dan kebetulan ia juga yang menangani pasien itu. Rupanya pasien tersebut dapat sembuh dan diterima di tentara. Kabar itu memberikan kebahagiaan tersendiri bagi dokter Ardian.

© 2019 - RS Wava Husada

Kontak kami        0341.393000