The Power of DU’A (Prayer)

Dokter muda berikut dikenal sebagai dokter Faundra Arieza Firdaus, Sp.An. Pria asal Malang tersebut merupakan salah satu dokter spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif di RS Wava Husada. Ia merupakan mahasiswa lulusan Fakultas Kedokteran Brawijaya (2006-2012) dan mengambil gelar spesialisnya di kampus yang sama (2013-2015).

Menurut dr. Faundra, sapaan akrabnya, mengatakan ilmu seputar anestesiologi begitu luas. Saat di kamar operasi ia bahkan bisa menjadi dokter spesialis penyakit dalam, dokter spesialis paru, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah serta dokter spesialis lainnya. Itu tidak lain karena Ia juga menangani beragam pasien di ruang operasi, khususnya terkait pembiusan. Hal yang membedakan adalah anestesi bisa masuk ke critical care, yaitu di Intensive Care Unit (ICU).

Saat ditanya bagaimana proses awal terjun di kedokteran, dr. Faundra menyebut ada peran orang lain dari karirnya sekarang. Tidak lain adalah neneknya. Waktu itu, nenek dr. Faundra berobat ke Puskesmas dan mendapatkan komunikasi yang kurang baik dengan dokter yang menangani. “Saat itulah nenek saya berdoa, anak cucunya agar bisa jadi dokter yang ngopeni. Jadi, ini mungkin jawaban doa dari nenek Saya,” pungkasnya.

Lanjut dr. Faundra, biasanya jika terdapat pasien kritis akan ditangani di ICU. Keinginan kuat dr. Faundra adalah merawat pasien dan berjuang sampai akhir. Sedangkan untuk Dokter Penanggung Jawab Pelayanan (DPJP) ICU adalah seorang dokter anestesi. Maka tidak salah ia jika terjun di Anestesiologi dan Terapi Intensif. “Saya ingin merawat pasien, khususnya keluarga saya sendiri, sampai akhir,” tutur dr. Faundra mengenang neneknya.

Selama ini dokter Faundra percaya “Bekerja ialah sambil beramal”. Jika mengejar kerja karena amal, maka pekerjaan itu tidak akan menjadi lelah. Berbeda jika pekerjaan karena uang semata, tidak akan ada habisnya.

Pada akhirnya, gaya hidup sebagai seorang anestesi membentuk karakter dr. Faundra untuk survive sampai sekarang. Jika ada panggilan mendesak (cito) untuk operasi, maka kepentingan lainnya akan dikesampingkan. “Quality time bersama keluarga pun harus dimanfaatkan, walaupun sejam dua jam saja. Karena akhirnya kita akan kembali ke pasien,” tutur dr. Faundra.

© 2019 - RS Wava Husada

Kontak kami        0341.393000