JER BASUKI MAWA BEWA (Semua Keberhasilan Membutuhkan Pengorbanan)

Menjadi dokter merupakan impian banyak orang. Namun tidak bagi dr. Imam Suseno B., Sp.BTKV, FIHA. Sejak kecil tak ada cita-cita menjadi dokter sedikitpun. Sebaliknya, ia justru ingin belajar mengenai dunia teknik yang amat disenanginya. Namun nasib berkata lain.

Pendidikan awal sampai SMA, Ia menghabiskan waktu di Pamekasan Madura, kota kelahirannya. Dr. Imam menuturkan, dia baru merantau saat mengambil kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip) tahun 2002-2008. Kemudian tahun 2010-2017 melanjutkan gelar spesialis di Universitas Airlangga Surabaya (Unair).

Saat mengambil pendidikan dokter umum, dr. Imam senang belajar tentang jantung, saraf, dan mata. Menurutnya, ada keraguan besar meneruskan di universitas yang sama. Mengingat sekolah spesialis tidaklah mudah. Dibutuhkan biaya besar serta pengorbanan. “Lalu saya tahu tentang BTKV saat searching di internet. Dirasa masih berkaitan dengan jantung, saya ambil di Unair,” tutur dokter berkacamata tersebut.

Perjalanannya tidak mudah. Masa-masa berat datang ketika dr. Imam mengambil spesialis. Hampir seluruh waktunya tersita di rumah sakit padahal keluarganya menunggu di rumah. Belum lagi ketika merawat pasien sehingga mengganggu proses belajarnya. Mengatasi itu, dr. Imam fokus pada bedah kasus pasien yang ditangani. “Setelah ada kasus tertentu saya biasanya buka buku dan mendalami materi tersebut. Jadi belajar sambil praktiklah istilahnya,” imbuhnya.

Dr. Imam pernah ingin menyerah. Menurutnya euforia diterima spesialis berlangsung satu dua bulan pertama saja. Sisanya menguras energi otak serta pikiran. Tidak hanya materi, mental pun demikian. Ia pernah berhadapan dengan dosen ‘killer’ yang notabenenya memarahi dan menghukum agar mental lebih kuat. Menurut dosen dr. Imam, kejadian yang bisa dihindari harus dihindari dan zero accident (tidak boleh ada kesalahan). “Karena BTKV melibatkan pembedahan saat operasi, maka kesalahan sekecil apapun berakibat fatal bagi semua pihak,” pungkasnya.

Dr. Imam percaya, “sesuatu yang tidak membunuhmu akan membuatmu lebih kuat”. Mantra tersebut menjadi pegangannya. Tak terhitung berapa biaya yang dihabiskan semata-mata untuk menunjang proses belajarnya. Kendati mahal dan sulit, ia menjalani hari-harinya dengan bersekolah sambil bekerja. Bahkan di tahun 2013, ia pernah menjaga klinik di pinggiran surabaya dengan gaji 400-500 ribu perbulan.

© 2019 - RS Wava Husada

Kontak kami        0341.393000